Jumat, 11 Juni 2010

Fenomena Pertemanan

Tahap Perkembangan Hubungan Sebaya pada masa Kanak-kanak
- Usia 3-12 tahun, anak lebih suka menghabiskan waktu dengan teman bermain sejenis kelamin
- pada saat memasuki SD anak bermain, berkelompok dan membina pertemanan
- Gender mempengaruhi komposisi, ukuran dan interaksi didalamnya. Anak perempuan berkelompok -3 orang banyak terlibat percakapan kolaboratif, anak laki-laki berkelompok lebih banyak bermain permainan kasar, kompetitif mengambil resiko.

hubungan orang tua - anak dengan teman sebaya :
- orang tua mempengaruhi hubungan sebaya
- melatih anak cara bersosialisasi
- mengatur kehidupan anak dan kesempatan berintraksi
- kehidupan gaya hidup dasar orang tua

Peer Status
- anak yang populer biasanya jadi sahabat atau pacarnya
- anak yang biasa saja, dominasi tetapi tidak menonjol
- tidak disukai oleh temenya atau dijauhi
- anak yang meonjol tetapi karena kejelekannya

Funsi Pertemanan :
- Beraktivitas bersama
- Berbagi Informasi
- Mensuport

Bullying

Perilaku Verbal dan fisikyang dimaksudkan untuk mengganggu seseorang yang lebih lemah.
yang sering terjadi yaitu diejek tentang tampangatau cara bicara
yang menjadi korban bullying anak cemas, menarik diri dan agresif

" Kemamapuan Dasar anak Prasekolah"
- Boehm Test Of Basic Concept-Prescool Version
Boehm-Prescool didesain untuk mengukur pengetahuan anak tentang 26 konsep relasional 52 item dasar yang dipandang penting untuk dicapai dalam permukaan.
- penetahuan tentang konsep dasar penting untuk :- menikuti perintah guru
- memahami instruktur
- berkomunikasi secara efektif
Konsep Relational mengacu pada karakteristik dari orang dan objek, seperti :
- ukuran
- arah
- posisi dalam ruang
- jumlah

Day Care

Daycare adalah sarana pengasuhan anak dalam kelompok, biasanya dilaksanakan pada saat jam kerja. daycare merupakan upaya yang terorganisasi untuk mengasuh anak-anak di luar rumah mereka selama beberapa jam dalam satu hari bilamana asuhan orang tua kurang dapat dilaksanakan secara lengkap. dalam hal ini, pengertian daycare hanya sebagai pelengkap terhadap asuhan orang tua dan bukan sebgai pengganti asuhan orangtua (Perserikatan Bangsa-bangsa, 1990).

sarana penitipan anak ini biasanya dirancang secara khusus baik program, staf, maupun pengadaan alat-alatnya. Tujuan sarana ini untuk membantu dalam hal pengasuhan anak-anak yang ibunya bekerja. Semula sarana penitipan anak diperuntukkan bagi ibu dari kalangan keluarga kurang beruntung, sedangkan sekarang sarana ini lebih banyak diminati oleh keluarga tingkat menengah dan atas yang umumnya disebabkan kedua orangtuanya bekerja.

PAUD

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:

* Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
* Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

Homeschooling (sekolah rumah) saat ini mulai menjadi salah satu pilihan orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Pilihan ini terutama disebabkan oleh adanya pandangan atau penilaian orang tua tentang kesesuaian bagi anak-anaknya.

Bisa juga karena orang tua merasa lebih siap untuk menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anaknya di rumah. Ini banyak dilakukan di kota-kota besar, terutama oleh mereka yang pernah melakukannya ketika berada di luar negeri.
Pembelajaran sekolah rumah sebaiknya menyesuaikan dengan standar kompetensi yang telah ditentukan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Ini agar sejalan dengan pertumbuan dan kemampuan anak, di samping dapat diikutkan dalam evaluasi dan ujian yang diselenggarakan secara nasional. Standar kompetensi menjadi panduan yang harus dimiliki seorang anak pada kelas tertentu. Anak kelas VI SD atau setara, misalnya, minimal sudah harus menguasai pelajaran matematika sampai batas tertentu.

Kamis, 10 Juni 2010

Anak dan Media ( Pengenalan Sejarah Melalui Media Buku dan Film KArtun)

Buku cerita rakyat dapat membantu kita dalam mengenali sejarah suatu tempat, seperti dalam buku cerita rakyat dari Malang, berisi tentang asal-usul dari nama suatu daerah di Malang seperti Asal-usul Merjosari, Wendit, dan Coban Rondo.
Yang disampaikan dalam bentuk cerita, di selingi dengan gambar tokoh dari daerah tersebut . Salah satu tempat yang menarik adalah Air terjun Coban Rondo yang merupakan salah satu objek wisata yang terkenal.
Cerita ini adalah tentang seorang perjaka bernama Baron Kusumo yang jatuh Cinta kepada Dewi Anjarwati, saking cantiknya Baron Kusumo memandang tak berkedip, Wajah Dewi Anjarwati mengalihkan dunia Baron Kusumo, karena kagum akan kecantikannya maka Baron Kusumo meminang Dewi Anjarwati, beruntung cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ketika mereka menikah dan hidup berbahagia suatu ketika Dewi Anjarwati ingin berkunjung segera ke rumah mertuanya, meskipun orang tuanya sudah melarang tetapi Dewi Anjarwati tetap bersikeras kemudian dalam perjalanan menuju ke rumah mertuanya, Raden Baron Kusumo dan Dewi Anjarwati beristirahat karena kehausan dan Raden Baron Kusumo pergi mencari air, ketika kembali ternyata di hadapan Dewi Anjarwati berdiri seorang pria bernama Joko Lelono bermaksud untuk menjadikan Dewi Anjarwati sebagai istrinya, mendengar hal tersebul Baron Kusumo sangat marah dan peperangan diantara keduanya tidak dapat dihindarkan, Akhirnya Raden Baron Kusumo dan Joko Lelono meninggal dalam pertempuran. Sementara Dewi Anjarwati yang sudah menjadi janda menunggu Raden Baron Kusumo di air terjun. Oleh karena itu tempat tersebut dinamakan air terjun Coban Rondo.
Pelajaran yang dapat dipetik dari cerita tersebut adalah Kita harus memperhatikan nasehat orang tua, juga tidak boleh menganggu orang lain apabila tidak ingin celaka.
Sasaran pembaca adalah segala usia, untuk anak-anak boleh dengan bimbingan orang tua agar orang tua dapat mengenalkan sejarah dalam bentuk dongeng, sehingga anak akan lebih tertarik .
Pengemasan dalam Buku ini kurang menarik karena tidak ada tampilan gambar yang berwarna seperti yang diminati anak-anak.
Tetapi secara keseluruhan buku ini bermanfaat untuk mengetahui sejarah di sekitar lingkungan kita, seperti asal-usul nama coban rondo. Agar anak lebih tertarik dengan sejarah sebaiknya orang tua menggunakan buku ini sebagai sarana untuk mendongeng, sehingga orang tua dapat menyampaikan pesan moral yang terdapat dalam cerita tersebut.
Selain disampaikan dalam bentuk buku cerita rakyat, pengenalan sejarah juga dapat disampaikan melalui film, contoh Film kartun Little Einstien yang terdiri dari empat anak kecil yang jenius ditampilkan dalam bentuk kartun yang bercampur dengan mahluk hidup, Dalam film ini menceritakan tentang petualangan empat einstien cilik ke Negeri Mesir untuk menemukan piramid, mereka pergi menggunakan roket. Dalam perjalanan menuju ke Piramid keempat anak ini menemukan petunjuk menuju Piramid, mereka melewati berbagai rintangan untuk menuju ke sana seperti melewati buaya ganas, juga melewati sphinx besar, ketika mereka menemukan harpa emas mereka memainkannya lalu pintu piramid terbuka.
Pelajaran yang dapat diambil adalah Mengajarkan tentang persahabatan, mengajarkan untuk tidak pantang menyerah.
Sasaran penonton adalah usia sekolah dasar, karena mengajarkan tentang persahabatan, dan membedakan yang nyata dan tidak dalam kehidupan sehari-hari.
Cocok untuk jenis kelamin pria dan perempuan karena mengajarkan bagaimana pria dan perempuan dapat bersahabat dan saling menghargai.
Kelebihan dalam film ini sangat bermanfaat untuk menambah waawasan dan mengenalkan tentang sejarah dunia yang tidak dijumpai di lingkungannya.
Kekurangan dalam film ini Alur cerita sulit dimengerti, karena cerita terlalu disingkat-singkat.
Teori yang relevan adalah Reinforcement-Affect ( Byrne& Clore)
Yang dimana anak menyukai hal positif, yang diberikan oleh orang lain mendatangkan keuntungan, dan sebaliknya apabila melakukan hal negatif akan diberi ganjaran.
Hal tersebut dapat membentuk persahabatan yang erat antar sesama.
Peran media massa dalam perkembangan anak sangat berpengaruh positif dengan meningkatkan informasi tentang lingkungan sekitar dan juga tentang sejarah dunia, sehingga anak dapat belajar sambil bermain, namun walau media massa berpengaruh positif, tetap memiliki sisi negatif oleh karena itu diperlukan bimbingan orang tua.
Pengenalan sejarah kepada anak dapat disampaikan melalui media buku dan juga film kartun agar anak lebih tertarik untuk mengenal sejarah. Media buku kurang diminati anak tetapi apabila dikemas lebih menarik dalam hal penyampaian cerita, atau tampilan bukuanak akan bersemangat dalam mempelajari sejarah.

Selasa, 08 Juni 2010

PERUBAHAN GENDER


Gender VS Jenis Kelamin

GENDER

Sejauh ini persoalan gender lebih didominasi oleh perspektif perempuan, sementara dari perspektif pria sendiri belum begitu banyak di bahas. Dominannya persepektif perempuan sering mengakibatkan jalan buntu dalam mencari solusi yang diharapkan, karena akhirnya berujung pada persoalan yang bersumber dari kaum lelaki. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Faruk HT (1995) pendekar perempuan yang berada di goa hantu yang gelap gulita. Ia gambarkan perjuangan wanita demi kesetaraan gender:
dimana kerasnya batu yang menyandang, licinnya lumut yang menggellincirkan , dan bahkan kilatan cahaya yang muncul seakan memberi harapan jalan keluar, merupakan kepanjangan tangan, kamuflase, topeng-topeng aneka wajah dari sebuah kekuatan abstrak tak terlihat, yaitu sang lelaki yang bersembunyi di balik semuanya. (hal 51)
Jika kita ingin melihat persoalan gender secara lebih berimbang, tentu saja, kita perlu mengkaji apa sesungguhnya yang ada di "kepala" laki-laki tentang soal yang klasik ini. Dengan perkataan lain semestinya diperlukan perhatian yang lebih serius tentang issue-issue gender pada laki-laki, bukan melulu mendekati dari sisi perempuan. Pertanyaan inilah (yang diajukan secara emosional oleh salah seorang mahasisiwi O'Neil, pada mata kuliah tentang sosialisasi gender pada wanita) menggugahnya di tahun 1970, bahwa memang dibutuhkan Psikologi tentang pria yang baru.
Adakah kini terjadi pergeseran dibanding pada masa-masa yang lampau atau gayanya saja yang beda, namum substansinya tetap sama. Laki-laki memperlakukan perempuan lebih rendah karena memang begitulah adanya.
Faktor-faktor apa saja yang membuat laki-laki berlaku demikian. Persepektif ini seharusnya memperoleh perhatian yang lebih intens. Menurut O'Neal (1995), semestinya ada alasan mengapa begitu banyak pria yang sexist dan mengapa begitu meluas diskriminasi sex. Permasalahannya lebih kompleks dari sekedar menyalahkan bahwa pria pada dasarnya cenderung menindas dan membenci perempuan (misogenis). Tampaknya sistem politik dan keluarga yang patriarchat memberi kontribusi dalam hal sexist terhadap perempuan.
Dzuhayatin (1997) mengungkapkan konsep kekuasaan pada budaya patriarchi adalah ekspresi kelaki-lakian dari 'sang penentu'. Sehingga setiap laki-laki merefleksikan kekuasaan tersebut kepada masyarakat yang lain, ayah terhadap anak, suami terhadap istri, kakak laki-laki terhadap adik, dan yang tertinggi raja terhadap rakyatnya.
Di Indonesia, perempuan telah diberi peluang yang sama dengan laki-laki di bidang pendidikan, namun persepsi masyarakat terhadap perempuan tidak mengalami perubahan yang berarti. Masih kuatnya anggapan bahwa pendidikan pada wanita tujuannya adalah agar ia lebih mampu mendidik anak-anaknya. Perempuan tetap saja dianggap the second sex. Perempuan 'direndahkan' ketika ia hanya di rumah dan 'dieksploitasi' ketika mereka berada di tempat kerja. Persepsi demikian tidak hanya dianut kalangan awam, juga cendekiawan, dan yang lebih memprihatinkan pemerintah juga menjustifikasi persepsi tersebut dalam kebjakan pembangunan, yang diungkapkan dalam panca tugas wanita: sebagai istri dan pendamping suami, sebagai pendidik dan pembina generasi muda, sebagai pekerja yang menambah penghasilan negara dan sebagai anggota organisasi masyarakat, khususnya organisasi perempuan dan organisasi sosial (Dzuhayatin, 1997). Tak terungkap tegas apa peran-peran seorang laki-laki.
Dengan bermunculannya gerakan-gerakan serta kajian-kajian wanita, memberikan kesempatan bagi wanita untuk bisa tampil di dunia yang secara tradisional dianggap dunia pria. Berubahnya peran-peran wanita ini, seharusnya membawa konsekwensi berubah pula peran-peran pria, sekaligus tatanan sosial yang ada. Jika pria sebagai bagian dari masyarakat, tidak ikut berubah, maka permasalahan akan timbul. Dalam skala keluarga misalnya, dengan bekerjanya seorang ibu, maka iapun berperan sebagai pemberi nafkah keluarga, yang tentunya mempengaruhi ketersediaan waktu dan tenaga ibu untuk berperan di dalam pengaturan rumah tangga serta pengasuhan anak. Sehingga bapak diharapkan juga dapat mengisi peran-peran seperti pengasuhan anak dan pekerjaan keluarga. Namun berbagai kondisi yang tampil, menunjukkan hal yang berbeda, wanita diperkenankan untuk bekerja, baik dengan alasan ekonomi, maupun alasan pengembangan diri, namun di sisi lain, ia tetap dituntut bertanggung jawab penuh di dunia rumah tangga serta pengasuhan anak. Kondisi yang kerap diistilahkan sebagai peran ganda ini, tanpa melibatkan peran serta pria untuk membuat keseimbangan, cenderung akan menimbulkan berbagai permasalahan. Di sini tampak relevannya kajian-kajian Psikologi Pria, diantaranya dengan mendefenisikan kembali maskulinitas, meninjau kembali persoalan gender ini dari dunia pria, sehingga mampu menampilkan keseimbangan di tengah mulai tampaknya perubahan..
Bila kita tinjau permasalahan gender di Indonesia, sampai sekarang hegemoni pandangan mengenai pertama-tama perempuan sebagai ibu rumah tangga masih teramat kuat, sehingga baik pemerintah maupun media massa terus-menerus berbicara tentang peran ganda, padahal menurut Budiman (1985) jika wanita masih harus membagi hidupnya menjadi dua, satu di sektor domestik dan satu lagi di sektor publik, maka menurutnya laki-laki yang mencurahkan perhatian sepenuhnya pada sektor publik akan selalu memenangkan persaingan di pasaran tenaga kerja. Tampaknya mustahil untuk mengatasi permasalahan gender ini hanya dari sudut pandang wanita, atau dengan perkataan lain hanya dengan berusaha merubah wanita sebagai individu, dan juga masalah tidak akan selesai hanya dengan menyalahkan laki-laki, namun penting untuk memahami laki-laki secara empatik, apa permasalahannya, bagaimana kaitannya dengan struktur patriarchi masyarakat, yang tentunya terkait dengan budaya dari suatu masyarakatnya. Untuk menguraikan hal ini, O'Neil menemukan dan mengembangkan teori dan penelitan-penelitian yang menerangkan bagaimana sexisme dan sosialisasi peran jenis kelamin berinteraksi menekan baik wanita maupun pria. Menurut O'Neil, laki-laki juga menjadi korban dari seksisme ini. Teori yang dikembangkannya disebut sebagai Teori konflik peran gender. Konflik peran gender mengimplikasikan permasalahan-permasalahan kognitif, emosional, ketidaksadaran dan perilaku yang disebabkan oleh sosialisasi peran gender yang dipelajari di masyarakat yang seksis dan patriarchal.

JENIS KELAMIN

jenis Kelamin adalah perbedaan bentuk, sifat, dan fungsi biologi laki-laki dan perempuan yang menentukan perbedaan peran mereka dalam menyelenggarakan upaya meneruskan garis keturunan. Perbedaan ini terjadi karena mereka memiliki alat-alat untuk meneruskan keturunan yang berbeda, yang disebut alat reproduksi. Alat reproduksi laki-laki dan perempuan hanya dapat berfungsi kalau dipadukan. Artinya alat reproduksi perempuan tidak bisa bekerja sendiri. Alat reproduksi laki-laki juga tidak bisa bekerja sendiri.

* Alat reproduksi perempuan, yaitu: vagina, kandung telur, rahim, beserta fungsi hormon yang antara lain membantu mengeluarkan air susu ibu (ASI)
* Alat reproduksi laki-laki yaitu penis, zakar, sperma, dan fungsi-fungsi hormon laki-laki yang melengkapi.